uici.potensiq.com/ – Mengenali dan memahami bahasa tersembunyi di balik ekspresi wajah penting kita pelajari.  “Semakin sering kita berinteraksi dengan orang, semakin kaya kita belajar tentang ragam ekspresi mereka,” jelas Fuad Hasan, seorang Hypnotherapist dan NLP Coach saat menjadi pembicara pada Webinar Rallyshow hari ke-2 yang mengusung topik “Analisis Micro Expression dalam Identifikasi Emosi” pada Kamis 2 Oktober 2025.  

Fuad menjelaskan bahwa micro expression adalah perubahan ekspresi wajah yang muncul secara spontan dan tak disadari, biasanya terjadi hanya dalam 1/25 hingga 1/5 detik. Meski singkat, ekspresi ini dapat mengungkap emosi yang sebenarnya dirasakan seseorang—bahkan ketika ia mencoba menutupinya.

Menurut Fuad, kepekaan menjadi kunci utama untuk membaca micro expression. “Kita harus melatih kepekaan, karena micro expression hanya muncul sepersekian detik. Kalau tidak dilatih, mata kita tidak akan menangkapnya,” jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya mengamati ekspresi secara keseluruhan, bukan hanya wajah. “Wajah hanyalah salah satu bagian. Terkadang bahasa tubuh lebih jujur daripada kata-kata,” tambahnya.

Jejak Ilmiah: Dari Darwin hingga Facial Action Coding System

Menariknya, Fuad mengajak peserta menelusuri sejarah micro expression. Ia menceritakan bagaimana Charles Darwin pertama kali menulis buku “The Expression of the Emotions in Man and Animals” pada tahun 1872. Penelitian Darwin ini menjadi cikal bakal studi tentang hubungan antara ekspresi wajah dan emosi manusia.

Ilmu tersebut kemudian berkembang menjadi lebih sistematis melalui Facial Action Coding System (FACS)—suatu metode ilmiah yang menganalisis gerakan otot wajah untuk membaca perasaan seseorang.

“Darwin percaya bahwa ekspresi emosi adalah naluri universal manusia. Kita hanya perlu lebih peka untuk membacanya,” jelas Fuad.

Membedakan Macro dan Micro Expression

Fuad menjelaskan bahwa ekspresi wajah terbagi menjadi dua:

“Macro expression ibarat gelombang besar di permukaan laut, sedangkan micro expression adalah riak kecil yang menyingkap apa yang terjadi di kedalaman hati seseorang,” ujarnya dengan analogi yang mudah dipahami.

Latihan Kepekaan, Fokus pada Detik ke-7 dan ke-8

Salah satu tips praktis yang diberikan Fuad adalah melatih fokus untuk memperhatikan perubahan ekspresi di detik-detik awal. “Perubahan ekspresi sering terjadi di detik ke-7 dan ke-8. Kalau sudah terlihat perubahan kecil di situ, hitung ulang dari nol untuk terus memantau ekspresi berikutnya,” ungkapnya.

Peserta diajak untuk berlatih mengamati garis halus di sekitar mata, sudut bibir, hingga gerakan alis. “Orang yang bahagia biasanya memiliki pandangan lurus ke depan dengan garis di sudut mata yang terlihat jelas. Sementara orang yang sedih cenderung menundukkan wajah, alis turun, dan bibir menekuk ke bawah,” jelas Fuad sambil memberi contoh visual.

Bahasa Tubuh, Kawan Setia Ekspresi Wajah

Tidak berhenti pada wajah, Fuad juga membahas “body micro expression”—perubahan kecil pada tubuh yang menandakan emosi tertentu.

“Orang marah biasanya bahunya mengencang dan tubuhnya sedikit menyempit, sedangkan orang yang merasa takut cenderung tegang di bagian atas tubuh namun lemas di bagian bawah,” jelasnya.

Ia menambahkan bahwa sinkronisasi antara kata-kata, ekspresi wajah, dan bahasa tubuh adalah kunci untuk membaca keaslian perasaan seseorang. “Kalau ada ketidaksesuaian antara apa yang diucapkan dan ekspresi tubuh, di situlah kita bisa mendeteksi emosi yang tersembunyi,” katanya.

Pentingnya Micro Expression dalam Kehidupan Sehari-hari

Fuad menegaskan bahwa kemampuan membaca micro expression bukan hanya berguna untuk profesional seperti psikolog, mediator, atau penegak hukum, tetapi juga bermanfaat dalam kehidupan sehari-hari.

“Dengan memahami micro expression, kita bisa lebih empati dan peka terhadap orang lain. Kita bisa tahu kapan seseorang butuh dukungan meski dia berusaha menyembunyikannya,” kata Fuad.

Ilmu yang Mengasah Empati dan Intuisi

Sesi webinar yang berlangsung hampir dua jam ini ditutup dengan ajakan Fuad untuk terus melatih kepekaan. “Membaca micro expression itu butuh latihan, sama seperti belajar bahasa baru. Tapi begitu terbiasa, kita akan lebih mudah memahami orang lain,” pungkasnya.

Webinar “Analisis Micro Expression dalam Identifikasi Emosi” ini menjadi pengalaman berharga bagi para peserta. Bukan hanya menambah pengetahuan, tetapi juga mengasah empati, intuisi, dan keterampilan komunikasi—sesuatu yang dibutuhkan di era interaksi sosial yang serba cepat dan kompleks seperti saat ini.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *